Umar Samiun Bangkitkan Aspal Buton

 

Bupati Buton Umar Samiun (tengah) bersama rekannya sesama kader PAN Sultra di lobi hotel Grand Clarion Kendari, Rabu malam (22 April 2015). Abdul Rahman Saleh (kanan) kini menjabat Ketua DPRD Provinsi Sultra hasil Pemilu 2014. Adapun Kusrin (kiri) adalah teman dekat Umar Samiun. Foto Yamin Indas

Oleh Yamin Indas
 

POTENSI aspal alam di Pulau Buton segera menjadi sumber ekonomi nyata bagi rakyat Indonesia. Presiden Jokowi telah menyetujui pembangunan industri aspal ini. Ia dijadwalkan meninjau langsung ladang aspal alam tersebut pada awal Juni 2015. Begitu dikatakan Bupati Buton Umar Samiun dalam perbincangan di Hotel Grand Clarion, Rabu malam tanggal 22 April 2015.

“Perjuangan untuk mengangkat potensi aspal buton menjadi obyek industri berskala besar, telah selesai,” ujarnya. Tindak lanjutnya kemudian adalah membentuk organisasi semacam badan otorita yang dipimpin langsung Presiden di tingkat pusat dan seterusnya gubernur serta bupati di tingkat daerah (lokasi aspal buton). Struktur di tingkat kabupaten diisi antara lain oleh para pengusaha pemegang izin usaha pertambangan (IUP) sebagai pelaku utama bisnis pertambangan dan industri aspal buton.

Pembangunan industri pertambangan berskala besar merupakan obsesi Umar Samiun sejak ia menjabat Bupati Buton beberapa tahun silam. Dalam suatu perbincangan di rumah jabatan di Kota Bau-Bau Umar mengharapkan Gubernur Sultra Nur Alam agar juga mendorong para investor bermodal kuat untuk melakukan investasi di bidang pertambangan dan industri aspal, dalam rangka memanfaatkan potensi aspal alam di Pulau Buton. Jangan hanya bisnis pertambangan nikel saja yang dijadikan fokus. Ketika itu memang sedang memuncak kegiatan penambangan nikel di Sultra. Kegiatan itu kemudian dihentikan pemerintah sesuai perintah undang-undang Minerba yang diberlakukan mulai Januari 2014. Kegiatan tersebut kini menyisakan kerusakan hutan dan lingkungan. Pemerintah daerah dan rakyat juga tidak mendapatkan apa-apa.

Harus cekatan

Umar Samiun adalah kader PAN (Partai Amanat Nasional) dan saat ini menjabat sebagai Bupati Buton. Umar Samiun tempaknya cerdas menangkap visi misi Presiden dan Wakil Presiden Jokowi-JK. Ia memahami visi Tri Sakti Jokowi-JK yang berbunyi: Pertama, kita harus berdaulat secara politik; kedua, berdaulat secara ekonomi (berdikari); dan ketiga, berkepribadian dalam kebudayaan. Butir kedua oleh Umar dijadikan dasar pijakan ideologis untuk menghadap Presiden Jokowi pada suatu kesempatan di Istana Bogor.

Akan tetapi tidaklah mudah bagi Umar mewujudkan keinginannya bertemu Presiden. Pasalnya, putra Buton ini harus rebutan dan bersaing dengan para kepala daerah lain yang ingin bertemu Presiden. Namun, bagi Umar ihwal persaingan adalah perkara biasa. Justru kemampuannya bersaing yang mengantarkannya pada karier dan jabatan politik yang disandangnya saat ini. Melihat gelagat di sekitar Istana tersebut Umar harus bertindak cekatan.

Maka, ketika ajudan memanggil seorang bupati tertentu yang diberi prioritas untuk menghadap Presiden , ia maju dan menyatakan, Bupati Buton yang dipanggil sambil ia menatap ajudan. Presiden Jokowi rupanya melihat suasana tersebut lalu ia berkata: “Ya, dia saja, Bupati Buton masuk,”.

Dalam pertemuan itu Umar Samiun tidak hanya berbicara potensi aspal buton terbatas hanya omongan belaka. Tetapi ia membawa beberapa contoh produk hasil uji laboratoris aspal buton. Ada contoh hasil ekstraksi murni, lalu dalam bentuk butir paling halus, dan butir halus. Pendeknya, ada tiga tingkatan kualitas produk yang diperlihatkan kepada Presiden. Ibarat pepatah kata berjawab gayung bersambut, Presiden Jokowi sangat antusias terhadap uraian Umar mengenai aspal buton dan kemungkinan pengembangannya.

Hasil pertemuan dengan Presiden Jokowi kemudian dibawa ke Gubernur Nur Alam untuk dibahas lebih jauh. Alhasil, Gubernur bersama Umar Samiun diterima Presiden di Istana, Selasa 7 April 2015. Di situ Nur Alam memaparkan grand desain pemanfaatkan potensi aspal buton dalam rangka mewujudkan konsep berdikari dalam bidang ekonomi (visi Tri Sakti). Intinya, impor aspal minyak harus dihentikan, lalu giliran aspal alam Indonesia di Pulau Buton diolah sampai pada tingkat pemurnian (ekstraksi) untuk dijual ke pasar dunia, setelah kebutuhan nasional akan aspal minyak terpenuhi.

Seperti dijelaskan Umar Samiun, selama sekitar 90 menit Gubernur Nur Alam melakukan presentase, Presiden menyimak dengan serius dan sesekali menggoreskan penanya untuk mencatat yang dianggapnya penting. Setelah pemaparan itu Presiden memerintahkan Sekretaris Kabinet Andy Widjoyanto agar mengalokasikan waktu kunjungan kerja ke Kabupayen Buton pada awal bulan Juni 2015. Presiden minta agar jadwal itu diingat betul oleh Sekretaris Kabinet demi menindaklanjuti rencana industri aspal alam itu..

Impor aspal minyak, bahan utama aspal hotmix, selama ini dipertahankan para mafia. Akibatnya, potensi aspal alam yang melimpah ruah, terpinggirkan. Di antara mafia aspal minyak impor, ada yang memegang IUP aspal buton sejak lama dan tidak pernah merealisasikan pembangunan industri.

Menurut Umar Samiun, kehadiran penguasaha semacam itu tidak lebih dari hanya menyandra potensi aspal alam tersebut, agar tidak jatuh ke tangan investor bermodal kuat dan serius untuk memanfaatkan potensi sumber alam tersebut menjadi sumber ekonomi nyata. Pengusaha seperti itu, bila masih bertahan dengan akal bulusnya, kelak akan dicabut IUP-nya oleh Gubernur Sultra Nur Alam. Sebab perizinan kini telah menjadi wewenang pemerintah provinsi, bukan lagi wewenang pemerintah kabupaten/kota.

Respons Presiden terhadap usulan pembangunan industri aspal buton, rakyat tentu menyambut gembira. Kita berharap agar Presiden Jokowi tidak mengulangi janji-janji muluk pendahulunya, SBY. Dalam tahun pertama menjabat Gubernur Sultra, Nur Alam telah mengusulkan Sultra menjadi pusat pertambangan nasional saat Presiden SB Y berkunjung ke Kendari. Ada tiga komoditas utama yang diajukan gubernur: nikel, emas, dan aspal. Masing-masing bahan tambang ini direncanakan memiliki kawasan industri sendiri. Presiden pun menyambut baik gagasan Nur Alam, dan menyatakan akan segera mengadakan rapat kabinet untuk menindaklanjuti usulan Sultra itu.

Namun, usulan itu kemudian tak ada kabar beritanya. Di lain pihak, kegiatan penambangan nikel di Sultra makin menggebu dan cenderung brutal. Para investor yang mengaku bermodal kuat kebanyakan hanya sebagai kaki tangan pemilik uang di China. Para investor ini juga berjanji akan membangun smelter. Bahkan, salah satu investor telah memplot lokasi pembangunan smelter di Kabaena dan Konawe Utara. Dana investasi bersangkutan sebesar enam miliar dollar AS, juga telah dilaporkan kepada Menko Perekonomian Hatta Radjasa (waktu itu). Akan tetapi semuanya bohong besar. Di Kabaena kini tak sepotong pun besi tersedia bagi rencana pembangunan pabrik pemurnian nikel. Yang tersisa di sana adalah lubang-lubang bekas galian nikel.

Kita berharap agar gombal pembangunan industri nikel tidak terulang pada rencana industri aspal buton. Karena itu, saya bilang kepada Pak Bupati Buton bahwa titik kritis rencana besar ini adalah pada komitmen pengusaha. Untuk menghilangkan keraguan, maka digalanglah sekarang juga beberapa pengusaha besar dan berintegritas, agar mulai melakukan persiapan kegiatan berinvestasi menjelang keluarnya kebijakan Presiden Republik Indonesia yang akan mengatur pengelolaan industri aspal buton.***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>