Pagi yang Indah di Tangkeno, Negeri di Awan

Oleh Yamin Indas

    

Sesudut pemandangan di Tangkeno, Negeri di Awan. Foto  Yamin Indas

KAMIS  (2 April 2015)  pagi di bilangan Wawontula, Desa Tangkeno, Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara. Cuaca cerah. Alam pegunungan tampak keemasan disepuh sinar Matahari. Semilir angin pegunungan menyelinap ke segenap celah dinding papan sebuah pondok yang tertancap kokoh di tengah hamparan ladang berisi tanaman padi dan jagung. Sesekali terdengar kulik elang yang melintas di atas tajuk-tajuk pohon, mengintai unggas-unggas kecil yang sedang lengah untuk dimangsa dalam ikhtiar makhluk predator tersebut untuk memulai keberlanjutan hidup di pagi yang indah itu.

     Sekelompok wanita dalam balutan busana seadanya sebagai petani sederhana, dalam waktu hampir bersamaan membuka aktivitas mereka di pagi itu dengan memetik jagung kering di ladang. Masing-masing morongo kompe (menyandang bakul yang talinya disangkutkan di atas kepala). Mereka memetik jagung dari sisa tanaman yang telah dipanen beberapa hari sebelumnya.

Setiap kali bakul mereka penuh, jagungnya dibawa dan dikumpul di teras pondok tadi. Di situ seorang wanita lainnya melanjutkan kegiatan proses panen tersebut. Ujung pelepah buah jagung kering dipotong lalu dilemparkan ke lantai tengah pondok sebagai penampungan sementara. Adapun Abdul Madjid, pemilik ladang dan suami perempuan tadi, mengeluarkan jagung dari kulitnya secara selektif, yaitu jagung yang dianggap kurang sehat sehingga tidak bisa disimpan lama.

     Seorang pria lain dari Kendari terlihat sangat menikmati suasana kehidupan di ladang itu. Ia membuka memori masa kecilnya tatkala hidup bersama kedua orangtuanya. Tetapi suasana di Wawontula pagi itu terasa lebih indah. Lirik-larik lagu Cinta Terbaik milik Cassandra secara spontan ditembangkan berulang-ulang. “Bapak sudah kangen rumah ya”, goda salah satu dari para pemetik jagung. Dibelai hembusan angin pegunungan yang sejuk, pria itu pun kemudian tertidur  pulas. Bunyi dengkurnya sempat  mencuri perhatian pemetik jagung saat menuangkan isi bakulnya di tempat berjarak hanya 1-2 meter dari pria itu terlelap.

     Di Tangkeno, desa kecil di lereng Gunung Sangia Wita, dalam bulan Maret tahun ini berlangsung musim panen jagung. Sekitar bulan Juni nanti akan dilaksanakan pula panen padi. Padi ladang tentunya. Beras dari padi ladang menjadi primadona dalam pasaran beras. Pasalnya, beras ladang dikenal memiliki beragam kelebihan dibanding beras putih.  Banyak orang bilang, mengkonsumsi beras ladang yang biasanya berwarna merah karena kulit arinya masih menempel, merupakan pilihan terbaik jika Anda  mau hidup sehat. Tidak heran jika banyak orang kota atau pejabat  dari kabupaten yang memesan beras ladang tangkeno.

Jagung yang digantung di tempat terbuka untuk menghilangkan kadar air agar dalam penyimpanan nanti di lumbung lebih awet.Tempat gantungan jagung tersebut disebut kabara. Ini kabara warga Tangkeno. Foto Yamin Indas

Gula tangkeno dikenal bermutu

     WARGA desa ini adalah petani tradisional. Tanaman pokok adalah jagung dan padi untuk menopang  ketahanan pangan. Tetapi hasil panen mereka kadang-kadang tidak mencukupi kebutuhan sendiri alias minus. Ketimpangan itu diimbangi dengan kegiatan membuat gula merah dari aren. Kerajinan ini juga sudah menjadi sumber  nafkah turun temurun. Dahulu, gula tangkeno terkenal  berkualitas baik. Tidak gampang remuk kalau kena banting  atau ketindis barang berat. Cetakannya besar-besar dan padat,  beratnya sekitar 0,7 sampai 1 kilogram  per biji.

Dahulu, alat  angkutan gula di Pulau Kabaena adalah kuda. Gula dibungkus  dengan kulit jagung dan dimasukkan dalam karung goni. Seekor kuda biasanya dibebani sepasang karung goni, masing-masing berisi 50 sampai 70 biji gula merah. Maka, ketika seorang warga Tangkeno tiba di Dongkala  dan menurunkan karung gula dari punggung kuda dengan membuang ke tanah, seorang calon pembeli berteriak: “Mapasamo gola yitu” (sudah pecah gula itu, bahasa Buton). Yang empunya gula menjawab dalam bahasa Buton pula: “Yinda mapasa gola yi Tangkeno si” (tidak pecah, gula Tangkeno ini).

Dongkala adalah kota pelabuhan dan sekaligus pasar bagi masyarakat Kabaena di belahan timur pulau itu, termasuk warga Tangkeno. Jarak Tangkeno – Dongkala melalui jalur jalan Balo lama, sekitar 40 km. Sekarang sisa sekitar 30 km setelah perkampungan Desa Balo di tepi Sungai Lampaku dipindahkan ke Wumbu Balo diikuti pembukaan jalur jalan baru melalui Lampaa Manu. Tenaga kuda pun sebagai alat angkutan telah digantikan kendaraan roda dua dan roda empat, meski kondisi jalan masih berupa kubangan di musim hujan. Tidak heran jika biaya transportasi di Kabaena jauh lebih tinggi dari nilai barang yang diangkut ke pasar-pasar terdekat.

Percakapan antara perajin gula dari Tangkeno tadi dan pedagang gula merah di Dongkala menjelaskan betapa tingginya integritas dan kejujuran orang Tangkeno di masa lalu. Mereka lebih mengutamakan kualitas dalam memproduksi gula merah. Sekarang jauh berbeda. Para perajin gula di desa itu dan Kabaena umumnya lebih mengejar kuantitas produksi. Cetakan gulanya tipis sehingga gampang pecah, ringan pula. Pendek kata, gula tangkeno tidak bisa dibanggakan lagi.

Salah satu proses pembuatan gula merah dari air nira aren (enau). Selo dan istrinya (warga Tangkeno) ketika mencetak gula. Setelah air nira mengental kemudian dimasukkan dalam tempurung kelapa ukuran kecil. Beberapa saat kemudian gula itu membeku dan berbentuk sesuai batok tempurung kelapa. Foto Yamin Indas

Kerajinan gula merah membuat warga Tangkeno terkesan sangat tradisionalis. Sulit mengubah pola hidup Mereka kurang perhatian pada usaha pertanian yang secara ekonomis lebih menguntungkan. Sebagai daerah pegunungan berhawa sejuk, lahan di Tangkeno sangat menjanjikan untuk pengembangan pertanian sayur-sayuran dan buah-buahan. Penyuluhan soal ini sudah sering dilakukan pihak instansi  terkait. Namun, kultur pertanian menetap yang membutuhkan disiplin kerja, kesabaran, ketekunan, dan penggunaan teknologi, masih sulit diadopsi warga Tangkeno dan petani Kabaena pada umumnya. Mereka cenderung pada pertanian tanaman yang bisa tumbuh dan berbuah sendiri tanpa  perlakuan dan perawatan secara teratur dan berkesinambungan.

Baru mulai demam cengkeh

     TANAMAN mandiri  seperti itu adalah jambu mente dan cengkeh. Komoditas jambu mente tampak lebih dominan mengisi lahan pertanian warga. Tetapi lahan atau kebun jambu itu hasilnya sangat tidak memadai. Adapun tanaman cengkeh, baru juga belakangan ini warga mulai keranjingan. Bukan hanya di Tangkeno melainkan di semua desa di Kabaena yang memiliki lahan ideal untuk tanaman cengkeh warga terkena virus latah. Keranjingan itu terpicu keberhasilan warga Desa Rahadopi di lereng Gunung Watu Sangia meraup puluhan juta, bahkan ada sampai miliaran rupiah dalam satu musim panen.

Keranjingan menanam cengkeh merupakan langkah positif  bagi orang Tangkeno. Mereka pun menyadari bahwa  tanaman ini sangat manja sehingga membutuhkan perawatan yang memadai. Selain itu usia panen cengkeh juga cukup lama, 5-7 tahun. Karena itu,  sambil menunggu  datangnya  usia  produksi tersebut,  kita anjurkan agar mereka menambah jenis tanaman semusim padi dan jagung dengan antara lain menanam cabai.

Harga cabai bukan hanya melangit di Ibukota Republik tetapi di desa pun membuat orang terperangah. Rp 10.000 sekilogram. Bergeser sedikit ke pasar Sikeli atau Dongkala berkisar Rp 30.000 sampai Rp 50.000 per kilogram. Di ibuota provinsi, harga cabai  tak jarang menembus angka Rp 150.000 sekilo.

Namun demikian, sikap orang Tangkeno terhadap peluang besar untuk meningkatkan pendapatan melalui pertanian cabai, tetap dingin. Mereka beralasan, buah cabai bakal habis dimakan ayam atau burung punai. Konyol sekali, memang. Tetapi begitulah fenomena masyarakat terbelakang. Miskin akibat penyakit malas di tengah lahan subur. Ibarat ayam mati kelaparan saat mengeram telurnya di lumbung  padi. Kemiskinan orang Tangkeno dan Kabaena umumnya tercermin pada rumah kaki seribu (rumah panggung), tempat tinggal mereka.

Daerah wisata

     KABAENA yang terdiri atas 6 kecamatan adalah wilayah administrasi Kabupaten Bombana. Ini kabupaten baru, hasil pemekaran Kabupaten Buton. Wilayah kabupaten tersebut meliputi seluruh daerah bekas Kesultanan Buton di masa lalu. Sekarang wilayah eks-kesultanan itu telah disayat-sayat menjadi 6  kabupaten dan 1 kota otonom. Perkembangan ini mendorong para elite Buton membentuk provinsi baru di Sulawsi Tenggara. Namanya Provinsi Buton Raya. Namun, nama tersebut memunculkan pro-kontra. Ada beberapa kabupaten menolak bergabung jika menggunakan nama yang dianggap bernuansa masa lalu dan fedodalistik itu.

Bupati Bombana HM Tafdil telah meletakkan dasar pembangunan Pulau Kabaena ke depan. Ia menetapkan Tangkeno sebagai desa wisata. Alasannya, Tangkeno adalah pusat peradaban masyarakat  Kabaena di masa lalu. Di daerah itu terdapat sejumlah benteng pertahanan  yang tersusun dari batu alam tanpa menggunakan bahan perekat, seperti semen dan sebagainya. Juga Tangkeno yang terletak di lereng gunung tertinggi di Pulau Kabaena (Gunung Sabampolulu, 1.850 Meter) menampilkan pemandangan alam yang menakjubkan.

Tangkeno juga dikenal sebagai pusat adat dan tradisi kehidupan sosial masyarakat Kabaena. Tata cara perkawinan, cara distribusi lahan pertanian, dan pola pertanian ramah lingkungan menjadi acuan masyarakat Kabaena secara keseluruhan di masa lalu. Maka, tiga aspek yaitu wisata alam, budaya dan sejarah menjadi pertimbangan Bupati Tafdil. Pariwisata bakal menjadi ikon Kabaena ke depan. Kecuali potensi wisata Tangkeno, pulau bergunung-gunung itu memiliki goa Watuburi di Lengora, karang atol Sagori di Batuawu. Sagori,pulau pasir putih sudah sering dikunjungi turis asing yang menggunakan kapal pesiar.

Bupati Bombana H Tafdil. Perhatiannya terhadap pembangunan Kabaena cukup besar. Foto Yamin Indas

Untuk memantapkan Tangkeno sebagai desa wisata, Tafdil membangun infrastruktur jalan dari dan ke Tangkeno, pusat kegiatan pariwisata,  dan penyediaan sarana air bersih sekaligus energi listrik untuk penerangan melalui pembangunan pembangkit listrk tenaga air berskala kecil (mini). Semua proyek tersebut,  kini (2015) masih dalam tahap pelaksanaan.

Sejak lama Tangkeno memang menjadi destinasi wisatawan mancanegara. Di desa itu pernah terjadi pertandingan sepak bola persahabatan antara tim Inggris dan tim tuan rumah Tangkeno. Seperti diceritakan Kepala Desa Tangkeno Abdul Madjid Ege,  rombongan peneliti dari Kerajaan Inggris jumlahnya lebih dari satu kesebelasan. “Jadi kita ajak mereka bermain sepak bola untuk mengakrabkan mereka dengan warga desa,” kata mantan kepala sekolah dasar tersebut.

Sebagai desa wisata, Tangkeno menggunakan tagline (slogan)  “Tangkeno,  Negeri di Awan”. Julukan itu sesuai dengan kondisi alam di sana di mana setiap saat terjadi kabut yang menggantung rendah menyelimuti lereng dan puncak-puncak bukit.

Akhirnya, penetapan Tangkeno sebagai desa wisata dan diikuti berbagai pembangunan fisik, sesungguhnya merupakan anugrah dari Allah SWT kepada warga setempat dan Kabaena  umumnya. Anugrah tersebut wajib disyukuri dengan cara giat bekerja lebih keras untuk memperbaiki taraf hidup. Konkretnya, lahan subur di sekitar mereka harus diolah dan ditanami dengan komoditas yang laku keras di pasaran. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>