Calon Gubernur Sultra Harus Pintar

 Oleh Yamin Indas

       

Gubernur Sultra Nur Alam (ketiga dari kanan) menekan tombol peresmian SPBI khusus bahan bakar minyak nonsubsidi di Mandonga, Kendari. Foto Yamin Indas

  Gubernur Sulawesi Tenggara H Nur Alam SE MSi baru akan lengser 18 Februari 2018, kurang lebih 3 tahun lagi. Namun, dia mulai mewacanakan kriteria calon panggantinya. Menurut Gubernur Sultra dua periode itu, kandidat Gubernur Sultra ke depan harus pintar. Artinya dia adalah figur yang memiliki kemampuan memanfaatkan berbagai peluang bagi percepatan pembangunan daerah tanpa harus tergantung pada APBN dan APBD. “Apabila hanya mengandalkan APBN dan APBD anak yang baru lahir pun bisa jadi gubernur,” kata penyandang Bintang Mahaputra tersebut.

        Gubernur menyampaikan pandangannya itu saat meresmikan pengoperasian stasiun pompa bahan bakar industri (SPBI) di pelataran depan bekas Rumah Sakit Umum Provinsi Sultra, di bilangan Mandonga Kendari, Selasa tanggal 17 Februari 2015. SPBI berkapasitas 17.000 liter itu menyalurkan bahan bakar premium non-subsdidi dengan harga Rp 9.000 per liter. Harga bahan bakar subsidi premium saat ini Rp 6.700 per liter.

        Pelayanan kepada umum langsung dibuka seusai upacara peresmian. SPBI ini dikelola PT Utama Sultra, Badan Usaha Milik Pemprov Sultra bekerja sama dengan Pertamina. Gubernur menekankan bahwa semua kendaraan plat merah harus mengisi bahan bakar di SPBI tersebut. Ia mengatakan, pengeluaran Pemprov Sultra untuk kebutuhan BBM sekitar Rp 7 miliar lebih setahun. Tetapi penghasilan dari SBPI ini sekItar Rp 600 juta setahun akan memperkecil pengeluaran tersebut.

        Penempatan SPBI di bekas lokasi RSUP Sultra, lanjut Gubernur Nur Alam, hanya bersifat sementara. Sebab di lokasi   seluas 5 hektar ini akan dibangun superblock, kawasan terpadu yang menyediakan seabrek kemudahan terkait pelayanan masyarakat.  Selain fasilitas hunian (perumahan, apartemen, hotel) pasar modern (mall), dan sarana rekreasi, di tempat ini juga akan dibangun rumah sakit dan sarana pendidikan bertaraf internasional.  “Mallnya akan lebih besar dari mall-mall yang ada sekarang di Kendari”, ujarnya.

        Salah satu mall yang tergolong megah di ibu kota Provinsi Sultra saat ini adalah Plaza Kendari yang dibangun dan dikelola Lippo Group, pimpinan James Riady. Lippo Plaza kini menjadi pusat keramaian warga dan pengunjung Kota Kendari. Belakangan muncul pula hotel berbintang empat berlantai 15 di kawasan pantai Teluk Kendari sehingga membuat kota itu makin berkilau. Kota Kendari kini terasa seperti terapung dalam pusaran dinamika pembangunan ekonomi dan sosial budaya yang menggelegar.

        Dinamika itu tidak turun dari langit tetapi muncul dari kreativitas pemimpin daerah. Proyek-proyek investasi berskala besar tidak lahir dari dana APBN apalagi APBD, tetapi dari kreativitas Nur Alam, gubernur yang berlatar pengusaha. Ia pro-aktif melobi para pengusaha besar di Jakarta agar melebarkan bisnis mereka ke Sultra. Kreativitasnya itu tidak dikembangkan untuk kepentingan pribadi atau keluarga Nur Alam maupun  wakilnya Saleh Lasata. Semua prakarsa dan kreativitas diarahkan untuk kepentingan daerah dan masyarakat Sultra. Beberapa contoh hasil kretivitas yang berorientasi kepentingan publik adalah kehadiran Lippo Plaza, Hotel Clarion, dan pembangunan SPBI tadi. Bisa saja proyek pembangunan SPBI, misalnya, direkayasa atas nama BUMD namun kelak di kemudian hari bakal menjadi milik pribadi.  Tetapi Nur Alam agaknya jauh dari niatan itu.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>