Menjelang Sewindu Kepemimpinan Nur Alam

Oleh Yamin Indas

 

      

Gubernur Sultra Nur Alam. Gambar diambil tanggal 19 Februari 2008 dalam sebuah acara di Kejaksaan Tinggi Sultra. Foto Yamin Indas

  KEPEMIMPINAN Nur Alam sebagai Gubernur Sulawesi Tenggara telah berjalan tujuh tahun pada tanggal 18 Februari 2015 ini. Artinya, umur masa jabatannya telah menjelang sewindu. Tidak bisa disangkal bahwa selama kurun waktu tersebut cukup banyak sudah karya yang diukir. Namun, tentu banyak juga pihak tidak mengakui hal itu (keberhasilan). Terhadap pihak-pihak yang secara ekstrem menihilkan sama sekali keberhasilan Nur Alam sering saya sebut sebagai kelompok yang mencoba menutup matahari dengan sapu tangan.

        Perjalanan sebuah kepemimpinan pasti akan memunculkan dua sisi: keberhasilan dan sisi kegagalan di sana sini. Kenyataan tersebut adalah sebuah kewajaran belaka. Sebab Nur Alam bersama pasangannya Saleh Lasata tidak mungkin  bisa membereskan semuanya. Mereka bukan Tuhan. Perlu juga dicatat bahwa kelemahan kepemimpinan mereka justru menjadi tugas calon pengganti untuk menyelesaikan dan memperbaikinya, manakala masa jabatan pasangan ini telah berakhir.

        Mencari hotel berbintang empat di Kota Kendari sebelum Nur Alam menjabat gubernur sama sulitnya mencari ular bertanduk. Namun, masalah yang terkait kegiatan pariwisata itu telah teratasi sejak beberapa tahun terakhir. Sebab di ibukota provinsi itu kini telah bertaburan bintang, simbol kehadiran hotel-hotel mewah.  Pusat-pusat belanja berkelas juga muncul di mana-mana, sejalan berkembangnya pasar-pasar tradisional yang memberi ruang pelaku-pelaku  ekonomi menengah bawah.

        Kalangan nihilisme tadi  tentu ada yang mengatakan perkembangan tersebut bukan hasil kerja Nur Alam tetapi dinamika ekonomi yang terus bergerak sesuai mekanisme pasar, supply and demand. Padahal, salah satu fakta keberhasilan Nur Alam adalah justru hadirnya kegiatan investasi yang terus meningkat. Iklim investasilah yang dibangun Gubernur Sulawesi Tenggara itu sehingga para pengusaha kakap di negeri ini tidak ragu ikut berkontribusi dalam pembangunan provinsi ini.

        Nur Alam lebih pro-aktif melakukan lobi terhadap para pengusaha kakap di Jakarta daripada merengek-rengek minta penambahan anggaran di pusat. Proyek-proyek pembangunan yang dibiayai APBN dan APBD telah diprogram dengan baik dan pelaksanaannya menjadi tugas rutin birokrasi. Kegiatan pemerintah tersebut secara otomatis dipandang bisa berjalan sendiri tanpa dengan susah payah. Bagi Nur Alam lebih sulit memikat perhatian para investor agar mau serius melebarkan bisnisnya di Sulawesi Tenggara daripada mengurus APBN/APBD.

       

Nur Alam beberapa jam setelah menerima penganugrahan Bintang Mahaputra atas jasa-jasanya yang luar biasa kepada bangsa dan negara oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka Jakarta tahun 2013. Foto Yamin Indas

Tetapi sebagai mantan pengusaha dia mampu membujuk James Riady, pemilik Lippo Group sehingga sahabat dan penyandang dana kampanye mantan Presiden AS Bill Clinton itu mau membangun mall Lippo Plaza Kendari.   Pasar modern itu menjadi pusat rekreasi belanja dan kuliner di Kota Kendari. Masih banyak proyek-proyek investasi serupa yang bakal dibangun baik di ibu kota provinsi maupun kota-kota lain di Sultra.

        Hasil-hasil pembangunan fisik produk APBN dan APBD juga tidak sedikit. Umumnya  berupa penyediaan dan perbaikan infrastruktur, seperti ruas-ruas jalan dan jembatan, pelabuhan laut dan udara. Sebut misalnya, jembatan terpanjang di Sultra (237 meter) di hulu Sungai Konawe. Kehadiran jembatan itu membebaskan penduduk hulu sungai tersebut dari isolasi. Ada pula pelabuhan di Bunggutoko, Kota Kendari. Pelabuhan baru itu menggantikan fungsi pelabuhan lama di Teluk Kendari yang telah beroperasi sejak zaman Belanda.

Kaderisasi calon pemimpin

        Pendek kata, di era kepemimpinan Nur Alam dalam tujuh tahun terakhir cukup banyak hasil-hasil pembangunan yang tampak dan telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Bukan hanya pembangunan fisik tetapi kaderisasi calon-calon pemimpin daerah juga dilakukan secara baik oleh Gubernur Sultra tersebut. Baik kader partai maupun birokrasi. Sebagai pimpinan partai (PAN) Nur Alam telah merekrut banyak pemimpin puncak di eksekutif dan legislatif. Kaderisasi di bidang birokrasi dilakukan melalui mekanisme pengangkatan pejabat-pejabat bupati dan walikota untuk mengisi kekosongan selama proses pemilihan bupati/walikota definitif.

        Salah satu langkah strategis Nur Alam terkait proses rekrutmen para pejabat puncak di eksekutif (bupati/walikota) adalah memberi kesempatan kepada kader-kader yang prestasi dan kemampuan manajerialnya terlihat lebih menonjol. Dan kesempatan tersebut tidak diberikan dua kali kepada kader yang sama sehingga semua sumber daya yang tersedia berpeluang mendapatkan giliran.

        Tujuh tahun Nur Alam memimpin Sulawesi Tenggara oleh banyak kalangan dipandang sangat produktif dengan sejumlah prestasi memadai dan bernilai strategis. Bukan hanya pembangunan fisik material melainkan juga pembangunan kualitas sumber daya manusia,  prestise dan martabatnya. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>