Ke Depan, Jambore Pramuka Eksekutif Harus Lebih Baik

 

 Oleh Yamin Indas

 

Jambore Pramuka Eksekutif Provinsi Sultra di Desa Lamanu, Kabupaten Muna, menjadi ajang pertemuan besar anggota pramuka dari PNS maupun masyarakat. Salah satu peserta jambore dari Kabupaten Kolaka beraksi di depan kamera. Foto Yamin Indas

BERBICARA tentang pramuka, akronim dari praja muda karana, mau tak mau harus bersinggungan dengan masalah karakter. Sebab pramuka adalah sebuah gerakan pendidikan karakter manusia mulai dari usia dini hingga dewasa dan berusia lanjut. Sistem pendidikan formal kita menempatkan  kegiatan pramuka sebagai pendidikan ekstra kurikuler yang paling utama.

        Kita berbesar hati karena gerakan ini tidak berhenti saat pendidikan kita selesai dan telah bekerja mencari nafkah di bidang atau profesi apa pun. Di institusi pemerintahan kegiatan kepramukaan justru dijadikan salah satu kegiatan bersifat penyegaran (refreshing) yang dilaksanakan secara berkala dalam upaya memulihkan kelelahan fisik dan mental setelah sekian lama terbebani masalah rutinitas pekerjaan sehari-hari.

        Maka, di lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara  secara berkala pula diadakan Jambore Pramuka Eksekutif. Jambore atau pertemuan besar pramuka tersebut melibatkan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana yang terjadi di Desa Lamanu, Kecamatan Kabawo, Kabupaten Muna, selama tiga hari (9-11 Januari 2015). Alam desa yang masih jauh dari suasana kehidupan makmur itu mendadak tenggelam dalam keramaian ribuan anggota pramuka dari 17 kabupaten/kota di Provinsi Sultra. Bumi Perkemahan Lamanu bergetar oleh luapan hiruk pikuk masyarakat Muna yang berbaur dengan pramuka, termasuk para pejabat tinggi seperti gubernur, bupati, dan walikota. Satu-satunya bupati yang tidak hadir adalah Bupati Konawe Selatan Imran. Bupati Kolaka Ahmad Syafei dan Bupati Buton Umar Samiun, memang juga absen tetapi mereka mengirim Wakil Bupati dan pejabat teras lainnya  sebagai pimpinan kontingen pramuka daerah mereka ke pertemuan besar pramuka Jambore Eksekutif Provinsi Sultra itu.

Ketua Majelis Pembimbing Daerah Pramuka Sulawesi Tenggara Nur Alam diapit Ketua Kwartir Daerah Pramuka Sultra Drs H Irawan Laliyasa MSi dan Anggota Mabida Pramuka Sultra H Rahman Saleh MSI yang juga Ketua DPRD Sultra. Di kiri Rahman Saleh adalah Wakikl Gubernur Sultra Brigjen (Purn) HM Saleh Lasata. Foto Yamin Indas.

        Hikmah terbesar dari Jambore Eksekutif  itu adalah terbangunnya semangat kebersamaan di antara semua komponen masyarakat Sultra, di antara rakyat kecil dan para pemimpin formalnya. Di antara prajurit TNI dan Polri yang berbaur dengan berbagai kalangan masyarakat. Jalinan persatuan dan kebersamaan terasa lebih hangat, mengental, dan larut dalam suasana hiburan gratis yang ditampilkan para penyanyi dangdut Ibukota. Karena itu, menjadi aneh bin ajaib jika dalam suasana kebersaaan dan kekompakan antar-anak bangsa seperti itu lantas ada bupati absen tanpa alasan masuk akal. Misi gerakan pramuka sebagai sarana pendidikan karakter, pembaruan semangat disiplin, meningkatkan kepedulian sosial dan rasa percaya diri, menjadi pudar.

Ketua Kwartir Daerah Pramuka Provinsi Sulawesi Tenggara Drs H Irawan Laliyasa MSi sibuk melakukan koordinasi berbagai pihak terkait, menjelang detik-detik pembukaan Jambore Pramuka Eksekutif Sultra di Bumi Perkemahan Lamanu, Kabupaten Muna, Jumat petang tanggal 9 Januari 2015. Foto Yamin Indas

Adalah sebuah pemandangan menarik saat kita menyaksikan para bupati dan walikota tampak berusaha memainkan perannya dengan kesungguhan hati dalam pelaksanaan upacara pembukaan Jambore Pramuka Eksekutif Provinsi Sultra.  Gubernur Nur Alam bertindak sebagai Pembina Upacara. Sesaat kemudian Bupati Wakatobi Hugua sebagai perwira upacara tampil ke depan dan melapor kepada Pembina Upacara bahwa upacara pembukaan Jamobore Pramuka Eksekutif Sultra Tahun 2015 segera dimulai. Komandaan Upacara Bupati Muna La Ode Baharuddin dengan suara lantang laksana seorang komandan batalyon TNI memberi aba-aba agar seluruh peserta upacara siap sempurna. Suasana pun hening. Tiga bupati yakni Bupati Bombana Tafdil, Wakil Bupati Buton La Bakry, dan Bupati Konawe Kerry Konggoasa dengan derap langkah teratur ergerak dari tepi lapangan ke depan Pembina Upacara kemudian membaca teks Pancasila, teks UUD 1945, dan Dasa Dharma Pramuka.

Enam orang bupati lainnya kebagian tugas mengerek bendera pramuka. Mereka adalah Bupati Kolaka Utara Rusda Mahmud, Pj Bupatu Buton Selatan La Ode Mustari, Pj Bupati Muna Barat La Ode Muhammad Radjiun Tumada, Pj Bupati Buton Tengah Mansur Amalia, Pj Bupati Kolaka Timur Tony Herbiansyah, dan Sekda Muna Nurdin Pamone (Bupati Muna Komandan Upacara). Adapun Bupati Konawe Utara Aswad Sulaiman, Walikota Bau-Bau AS Thamrin, dan Pj Konawe Kepulauan tampil ke depan, lalu berdiri tegap saat Gubernur Nur Alam menyematkan tanda peserta jambore di dada mereka. Walikota Kendari Asrun bertindak sebagai lebay. Ia menutup seremoni pada Jumat petang itu dengan melafazkan doa dalam bahasa aslinya (Al-Qur’an/Arab).

Tak ada gading tak retak, tak ada perhelatan tanpa cacat. Suasana Bumi Perkemahan Lamanu yang berbinar,  agak terganggu oleh kelangkaan air bersih dan fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus). Tak jauh dari tenda utama (kemah gubernur dan pejabat tinggi provinsi lainnya) ada bangunan MCK yang terdiri dari beberapa kamar, namun hanya dua kamar di antaranya berkloset. Kloset ini juga tidak dilengkapi kran air atau tempat penampungan air. Jika warga perkemahan hendak berhajat, maka dia harus membawa wadah air seperti ember untuk pembersih. Sebagai catatan, Bumi Perkemahan Lamanu jauh dari sumber air dan perkampungan penduduk.

Kekurangan lain, tidak ada mushalla darurat, tempat shalat berjamaah di bumi perkemahan yang dipadati ribuan peserta itu. Dan umunya beragama Islam. Ibadah, terutama shalat lima waktu benar-benar menjadi urusan pribadi setiap muslim di bumi perkemahan itu. Akan terasa indah sekali  jika gerakan pramuka yang bermuatan pendidikan karakter itu ikut diberi fondasi kehidupan religi yang berintikan pelaksanaan syari’ah. Tafdil, Bupati Bombana dalam perbincangan dengan saya menyatakan kesanggupannya menjadi tuan rumah Jambore Pramuka Eksekutif Sultra untuk giliran berikutnya. Bumi perkemahan, katanya, akan ditempatkan di Pajongae, hamparan padang luas bekas pangkalan Angkatan Udara Jepang di masa Perang Dunia II. Saya kira, Tafdil pasti akan berusaha untuk melakukan persiapan yang lebih matang sehingga Jambore Eksekutif Sultra ke depan, akan lebih baik. Harus disadari peserta Jambore Eksekutif bukan PNS dan warga biasa tetapi kebanyakan pejabat. ***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>