Nur Alam Blak-blakan Soal Rekening Gendut

 

Oleh Yamin Indas

Gubernur Nur Alam di tengah terpaan badai isu. Foto Yamin Indas

  BANYAK isu telah menghajar Nur Alam (47). Gubernur Sulawesi Tenggara dua periode ini dituduh terlibat skandal wanita dengan aktris cantik Manohara, lalu dengan  seorang wanita biasa warga Jakarta yang disebut telah memberinya seorang anak, dan terakhir isu korupsi. Tuduhan korupsi lebih menyedot perhatian publik karena di era reformasi ini  ada anggapan bahwa para kepala daerah (gubernur, bupati/walikota) tengah digilir menjadi tersangka oleh lembaga penegak hukum, lebih khusus lagi Komisi Pemberantasan Korupsi.

        Lawan-lawan politik Nur Alam yang berada di belakang isu-isu tersebut, kali ini makin optimistis target mereka tak bakal lolos lagi. Pasalnya, isu korupsi dengan predikat rekening gendut terkuak melalui Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, lembaga yang selama ini memasok data dan informasi buat institusi Komisi Pemberantasan Korupsi, Kepolisian Republik Indonesia dan Kejaksaan Agung. Dari lembaga inilah media sebenarnya mendapatkan pasokan informasi perihal apa yang disebut Rekening Gendut Nur Alam. Media (cetak dan elektronik) kemudian mem-blolw-up isu ini seolah-olah hasil temuan mereka sendiri (investigative reporting).

        Seiring dengan itu Kejaksaan Agung didesak dengan modus konfirmasi dan klarifikasi:  mengapa laporan PPATK belum ditindak lanjuti, kapan Nur Alam dijadikan tersangka, dan lain-lain pertanyaan menjebak dari para awak media. Ketika terjadi pergantian Jaksa Agung dalam rangka pembentukan kabinet oleh pemerintahan baru Jokowi-JK, giliran Jaksa Agung baru mendapat tekanan publik akibat gencarnya pemberitaan media terkait polis AXA Mandiri yang melibatkan nama Gubernur Sultra.

 Jaksa Agung didesak agar langsung saja menaikkan kasus ini ke tingkat penyidikan karena  apa yang telah dilaporkan PPATK sudah merupakan HP (hasil penyelidikan), sudah barang jadi begitu. Artinya, Jaksa Agung telah diintervensi oleh kekuatan yang digunakan lawan-lawan politik Nur Alam. Mereka menafikan langkah-langkah penyelidikan yang sebenarnya telah dilakukan Kejaksaan Agung sejak hampir dua tahun lalu. Bahkan, Nur Alam pun telah dimintai keterangan.

Mr Cheng bukan Mr Choang

        Apa dan bagaimana sesungguhnya Rekening Gendut Nur Alam? Dalam suatu kesempatan berbicara di depan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kota Kendari, Sabtu tanggal 3 Januari 2015, Gubernur Nur Alam mengatakan tuduhan itu bertolak dari usaha pengaburan masalah. Sebagai contoh Mr Choang (baca Coang) dikatakan bahwa orangnya adalah Mr Cheng juga. Choang alias Cheng, begitu. Padahal, faktanya berbeda. Choang adalah orang Taiwan yang beristrikan seorang wanita Pontianak. Suami istri ini adalah pengusaha tambang nikel di Kabaena di bawah bendera PT Billy Indonesia dan PT Anugrah Harisma Barakah. Sedangkan Mr Cheng adalah orang China (Tiongkok), mantan pengusaha kayu jati di Muna. Dalam tuduhan, sebagaimana telah disiarkan media secara bertubi-tubi, disebutkan Mr Choang alias Mr Cheng telah mengirim dana sebesar 4,5 juta dollar AS ke Nur Alam yang disamarkan sebagai polis asuransi melalui PT AXA Mandiri.

        Di depan mahasiswa Nur Alam mengakui adanya titipan Mr Cheng yang ditrnsfer ke PT AXA Mnndiri. Ia menjelaskan, polis asuransi itu bukan polis asuransi kesehatan, atau polis asuransi jiwa untuk Nur Alam. Tetapi polis itu adalah polis asuransi investasi, sebuah bidang usaha keuangan yang dikelola PT AXA Mandiri. Masih kata Nur Alam, polis investasi itu memang atas namanya secara pribadi sesuai kepesepakatannya dengan Mr Cheng. Kesepakatan itu adalah semacam jaminan kepada seorang sahabat bahwa Mr Cheng akan kembali ke Sultra untuk berbisnis. Jadi Mr Cheng bukan pengusaha tambang nikel sebagaimana dituduhkan dan dikaitkan kepada Nur Alam.

        Nur Alam menuturkan lebih lanjut, dalam suatu kunjungannya ke Hongkong beberapa tahun lalu secara tak disangka-sangka ia bertemu Mr Cheng. Mereka bersahabat saat Mr Cheng masih berbisnis kayu jati di Muna puluhan tahun silam. Nur Alam sendiri adalah pengusaha sebelum menjabat Gubernur Sultra.

        Uang Mr Cheng itu kemudian dikembalikan seluruhnya. Ketika diberitahu uang tadi dipersoalkan secara hukum, Mr Cheng berjanji akan menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya kepada pihak penegak hukum apabila diperlukan. “Saya menyesal telah menyusahkan teman sendiri”, ujar Mr Cheng seperti dikutip Nur Alam. Gubernur Sultra ini menyerahkan sepenuhnya masalah  rekening gendut versi media kepada penegak hukum. Dia yakin tidak ada tindak pidana korupsi yang dilanggarnya.  Tidak ada unsur kerugian negara atau unsur memperkaya diri atau orang lain dalam interaksi antara dirinya dengan sahabatnya Mr Cheng.

        Nur Alam mengatakan, lawan-lawan politiknya menuduh bahwa ia banyak mengeruk keuntungan pribadi dalam kegiatan tambang nikel yang pernah marak di Sultra sebelum dihentikan Januari 2014. Padahal, kegiatan itu tidak melibatkan dirinya sebagai gubernur. Kegiatan pertambangan nikel merupakan tanggung jawab bupati sebagai pihak pemberi izin. Bukan tidak mungkin di Sultra terdapat bupati atau mantan bupati memiliki rekening gendut tetapi tak disorot media. Selain itu hutan dan lingkungan di Sultra telah hancur akibat perizinan tambang yang tak terkendali. Juga tak disorot media. Nur Alam akhirnya berpendapat, media sekarang ini bukan tidak mungkin telah diperalat jaringan mafia.

        Gubernur sendiri tanpa disadari telah menjadi korban bertubi-tubi. Tak lama setelah sebuah majalah terkemuka di Jakarta memuat soal Rekening Gendut Nur Alam, di majalah itu kemudian terlihat iklan atau pariwara tentang pembangunan di Sulawesi Tenggara. Pariwara itu dibayar Rp 150 juta kepada manajemen majalah tersebut.  Majalah tersebut selama ini menjadi semacam referensi lembaga-lembaga penegak hukum.

        Di tengah badai fitnah berkepanjangan, Gubernur Nur Alam tampak tetap tegar dan penuh semangat untuk mewjudkan program-programnya bagi kesejahteraan rakyat. Contohnya adalah peningkatgan kualitas jalan di seantero Sultra, termasuk ruas-ruas utama dalam Kota Kendari. Pembukaan isolasi di daerah-daerah hulu sungai dan pulau dengan pembangunan jaringan jalan dan jembatan. Warga Kota Bau-Bau yang bermukim di Pulau Makassar, misalnya, saat ini tengah bersuka cita menantikan rampungnya pembangunan jembatan yang menghubungkan pulau itu dengan Bau-Bau. Bentangan jembatan itu sekitar 700 meter. Kecuali itu Gubernur juga terus merangkul para investor kakap untuk membangun fasilitas dan sarana kemudahan bagi warga kota-kota besar di Sultra, termasuk Kendari sebagai ibu kota provinsi. ***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>