Pulau Bokori, Salah Satu Pesona Sulawesi Tenggara

 Oleh Yamin Indas

Kembang api di langit Pulau Bokori pada detik-detik pergantian tahun 2014-2015. Kegiatan publik pertama setelah pulau ini dikosongkan dari penduduk oleh Pemda Sultra. Foto Yamin Indas

    FENOMENA libur ke luar negeri di akhir tahun adalah gaya hidup kalangan orang berpunya di Indonesia belakangan ini. Insiden pesawat Air Asia yang jatuh di perairan Kalimantan akhir Desember 2014 merupakan sebuah mimpi buruk bagi fenomena ini. Pesawat itu ditumpangi kaum pelancong dari Surabaya tujuan Singapura. Selain negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Hongkong, turis Indonesia juga bergerak ke Australia, Jepang, Korea, Tiongkok, dan Turki. Yang ke Eropa atau Amerika agak jarang kecuali mereka  yang melakukan perjalanan dinas.

        Berwisata ke keluar negeri perlu untuk memperkaya pengalaman dan memperluas wawasan. Tetapi kekayaan budaya dan sejarah serta keindahan alam negeri kita juga penting untuk dinikmati dalam rangka menumbuhkan rasa cinta Tanah Air. Sulawesi Tenggara, provinsi penghasil nikel dan aspal alam memiliki banyak obyek wisata yang mempesona. Baik wisata budaya dan sejarah maupun panorama alam. Wakatobi National Park, misalnya, adalah  taman laut di Kabupaten Wakatobi yang telah dikenal dunia sebagai resort diving, snorkeling, dan sederet daya tarik lainnya. Pesona alam bawah laut Wakatobi National Park dipopulerkan dengan slogan (tagline) “surga di bawah laut”.

        Di menit-menit pergantian tahun beberapa hari yang lalu, Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam mencanangkan Pulau Bokori sebagai salah satu destinasi wisata di provinsi tersebut. “Kalau di Wakatobi ada surga di bawah laut, maka di Bokori ada surga di darat,” ujarnya bercanda saat pidato menyambut Tahun Baru 2015 di pulau tersebut. Perayaan detik-detik pergantian tahun yang disponsori jajaran Pemerintah Provinsi Sultra dipusatkan di pulau itu. Pada malam penuh ceria itu langit Pulau Bokori berhiaskan cahaya kembang api dari puluhan kilogram petasan yang ditembakkan ke angkasa oleh para pengunjung. Daun nyiur di sekujur pulau terpaksa menunda tidurnya karena diguncang  gemuruh kembang api yang menyambar-nyambar  merobek dinginnya malam.

Pulau Bokori menunggu kegiatan investasi di bidang industri wisata. Pulau eksotik ini hanya beberapa mil dari Teluk Kota Kendari. Foto Yamin Indas

        Bokori adalah sebuah pulau eksotik di ambang masuk Teluk Kendari. Kemolekan pulau tersebut akan segera terlihat saat kita mulai keluar dari mulut teluk. Sekujur pantai Pulau Bokori berhiaskan sabuk pasir putih. Sabuk ini tampak berkilauan diterpa sinar mentari. Dari sebuah pangkalan perahu rakyat di daratan besar, Pulau Bokori dapat dicapai hanya sekitar tujuh menit dengan perahu motor bermesin 30 PK. Tetapi dari salah satu sudut di bibir teluk, bisa 15 menit. Jarak pulau itu dengan Teluk Kendari, landmark Kota Kendari, hanya sekitar lima mil (1 mil = 1.852 meter).

Nyaris lenyap

        Dalam kurun waktu lebih 10 tahun terakhir pulau pasir itu tidak berpenghuni lagi. Pemindahan penduduk Pulau Bokori dilaksanakan secara bertahap sejak akhir 1980-an. Tindakan itu dilakukan Pemda Sultra untuk menyelamatkan pulau bersama penghunnya dari hantaman ombak Laut Banda sepanjang tahun. Hampir 100 persen warga pulau adalah nelayan tradisinal dari suku Bajo (suku Sama). Mereka sekarang mendiami sebuah pantai di daratan besar yang berhadapan dengan kampung lama (Pulau Bukori). Desa baru mereka pun disebut Desa Bokori, masuk wilayah administrasi Kabupaten Konawe, kendati secara geografis lebih dekat dengan Kota Kendari.

        Awal tahun 1984, penulis sebagai wartawan Kompas pernah menginap dua malam di Pulau Bokori. Menurut Kepala Desa Pulau Bokori  Abdul Samad (waktu itu), luas pulau sekutar enam hektar. Ini hasil pengukuran tahun 1977. Sedangkan jumlah penduduk hingga bulan Februari 1984 tercatat 238 kepala keluarga (1.250 jiwa). Ketika itu penulis mencatat, kondisi Pulau Bokori memang kritis. Ombak Laut Banda tanpa ampun menghajar pulau ini dari sisi timur dan utara. Akibatnya, taman pekuburan warga berangsur lenyap berubah menjadi genangan laut. Lapangan rumput yang sering dipakai main bola juga sudah tergusur. Bahkan, sebagian perumahan warga pun dibuat porak-poranda.

        Ada dua hal yang membuat Pulau Bokori babak belur. Pertama, hamparan taman batu karang di sekitar pulau telah habis dibabat untuk keperluan bahan bangunan di Kota Kendari dan sekitarnya. Pada masa itu fondasi jalan pun menggunakan batu karang dari laut. Hal kedua, beratnya beban penduduk. Dengan luas seperti itu daya dukungnya tidak cukup untuk menampung ribuan penduduk. Untungnya, pada masa itu Kementerian Lingkungan Hidup di bawah pimpinan Emil Salim cukup peka terhadap masalah-masalah seperti yang dihadapi Sulawesi Tenggara, lebih khusus lagi Pulau Bokori.

Gubernur Sultra Nur Alam (kanan) berdiskusi dan memberi petunjuk Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sultra La Ode Saidin tentang langkah-langkah pembangujnan infrastruktur di Pulau Bokori. Gambar diambil Minggu 28 Desember 2014. Foto Yamin Indas

Maka, atas dukungan pemerintah pusat Pemda Sultra melakukan tindakan secara bertahap. Pada tahap awal, pemda bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sultra membuat peraturan daerah berisi larangan pengolahan dan pengambilan batu karang dari laut untuk keperluan apa pun. Proyek-proyek pemerintah yang ketahuan menggunakan batu karang, dibongkar. Tindakan selanjutnya adalah memindahkan penduduk pulau itu ke daratan besar melalui program resettlemen desa, program utama Pemda Sultra sejak awal Orde Baru dalam rangka pembangunan daerah pedesaan. Kegiatan pemindahan penduduk pulau tersebut, baru selesai di era Gubernur Sultra dua periode mendiang Drs Haji La Ode Muhammad Kaimoeddin (1992-2002).

Siapkan infrastruktur

        Gubernur Nur Alam terobsesi menjadikan Pulau Bokori sebagai salah satu tujuan wisata di daerahnya. Ia berharap, pulau itu kelak menjadi tempat transit pengunjung Wakatobi National Park maupun obyek-obyek wisata lain di Sultra. Karena itu, mulai sekarang Nur Alam membuka kesempatan seluas-luasnya kepada para investor industri wisata untuk membangun bisnisnya di pulau eksotik tersebut. Pihaknya sendiri akan menyediakan infrastruktur seperti air bersih, dermaga tempat sandar armada angkutan di beberapa titik, membangun homestay untuk memancing minat pengunjung terutama dari kalangan masyarakat luas, membuat jalan setapak dari beton sepanjang pantai pulau, dan membangun rintangan ombak di beberapa tempat.

        Daya tarik Pulau Bokori adalah pantai berpasir putih yang halus dan bersih, ideal untuk berjemur diri dan kegiatan olahraga pantai. Perairannya juga bening memantulkan warna biru di kedalaman dan putih di kedangkalan. Arah timur adalah pemandangan Laut Banda yang nyaris tak bertepi. Masih ada beberapa pulau lagi yang bisa masuk dalam resort Pulau Bokori jika ada investor yang berminat mengelola kawasan ini secara profesional sebagai resort wisata. Yaitu Pulau Saponda Darat dan Pulau Saponda Laut, serta Pulau Hari. Pulau yang terakhir ini terletak di jalur pelayaran kapal penumpang lokal rute Kendari – Raha – Bau-Bau.

Sesudut pemandangan di Pulau Hari. Pulau ini tampak angker dan penuh misteri. Foto Yamin Indas

Dari sisi luar Pulau Hari tampak hanya seonggok batu cadas berwarna gelap dan di sana sini dirambati pohonan liar. Tetapi bila kita masuk melalui sebuah celah, Pulau Hari lebih menantang bagi para petualang. Ia  tampak angker dan liar. Dinding-dinding tebingnya menantang untuk dipanjat, sementara tanahnya yang sempit di celah-celah tebing  cocok untuk camping.

Perairan Pulau Hari cukup dalam. Alam bawah lautnya masih menyimpan keindahan karang warna warni dan berbagai jenis ikan. Kegiatan diving dan snorkeling cocok di sini. Jaraknya  dengan Teluk Kendari (ibu kota Provinsi Sultra) hanya sekitar 14 mil, dan dengan Pulau Bokori sekitar sembilan mil. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>