Geliat Daerah Membangun Olahraga

Oleh Yamin Indas

 

Tarian kolosal saat pembukaan Porprov Sultra XII Tahun 2014 Buton Utara di Stadion Bahteramas Ereke, 6 Desember 2014. Konfigurasi membentuk tanda panah, simbol kesiapan masyarakat Buton Utara untuk bangkit melesat maju dan mandiri meraih prestasi di segala bidang kehidupan. Foto Yamin Indas

  SUKSES luar biasa yang diukir Buton Utara ketika menyelenggarakan Porprov Sultra XII Tahun 2014 tercatat antara lain pada kemampuan pemerintah daerah otonom baru itu menyediakan infrastruktur olahraga. Pekan Olahraga Provinsi Sulawesi Tenggara XII dimulai tanggal 6 Desember 2014 di Ereke, ibu kota Kabupaten Buton Utara.

       Hanya dalam waktu kurang dari dua tahun, Lamoliando telah berhasil disulap menjadi kompleks olahraga. Lamoliando adalah sebuah daerah ketinggian.  Kemolekan bibir pantai dan Teluk Ereke di tepi Laut Banda  dapat dinikmati dari kompleks olahraga tersebut. Hembusan angin segar yang menerpa melintasi pepohonan belukar liar di sekitar bukit akan segera memulihkan kepenatan fisik maupun mental seusai berolahraga di sana.

Stadion Bahteramas di Ereke, Buton Utara. Foto Yamin Indas

       Bupati Buton Utara Ridwan Zakariah mengatakan tanah bukit Lamoliando yang akan dikembangkan menjadi sebuah kompleks olahraga meliputi 35 hektar. Infrastruktur yang telah dan masih dibangun antara lain Stadion Bahteramas, gedung olahraga, kolam renang, dan lapangan bola voli pantai, bola basket, serta beberapa fasilitas outdoors lainnya. Stadion Bahteramas sudah selesai 100 persen.  Di sinilah digelar acara pembukaan Porprov Sultra XII Tahun 2014 yang dihadiri ribuan warga masyarakat selain sekitar 2000 atlet dan ofisial peserta Porprov XII Tahun 2014 Buton Utara.

       Kompleks Olahraga Lamoliando terakses jalan raya beraspal mulus. Kondisi jalan seperti itu merupakan hasil rekayasa engineering karya Hado Hasina, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Buton Utara. Dia telah membuat modifikasi campuran aspal buton dengan memanfaatkan potensi batu gunung setempat. Produk tersebut disebutnya Butur Seal, dan telah mendapat pengakuan dari Kementerian Pekerjaan Umum, disertai rekomendasi penggunaannya yaitu untuk pengaspalan ruas-ruas jalan yang masih berlalu lintas rendah, seperti kebanyakan ruas jalan kabupaten dan jalan provinsi di kawasan timur Indonesia.

        Acara pembukaan bertajuk “Bangkit maju dan mandiri untuk mencapai prestasi” itu diawali dengan tarian kolosal ‘kompania’ yang melibatkan sekitar 750 pelajar. Di tribune kehormatan tampak pemain legendaris bulu tangkis dunia Verawaty Fajrin dan Ivanna Lie. Mereka tamu istimewa Gubernur Nur Alam yang diundang untuk merangsang minat dan motivasi masyarakat Sultra agar lebih bersemangat menggeluti olahraga bulu tangkis sampai meraih puncak prestasi. Kedua legendaris pernah berjaya tak terkalahkan dalam berbagai event bergengsi di jagad ini pada era 1980-an. Di partai tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran, Verawaty adalah superstar yang tanpa ampun mampu menguburkan mimpi-mimpi para pebulu tangkis terkuat dari berbagai belahan dunia.

       Atraksi lain yang membuat pembukaan Porprov Sultra XII makin gegap gempita adalah terjun payung oleh para prajurit TNI-AU yang membawa bendera 17 kabupaten/kota, peserta Porprov tersebut. Ada pula penyanyi dangdut Saskia Gotik (goyang itik), marching band SMA Negeri Kendari  sebagai pemandu defile kontingen daerah peserta, dan penyulutan api Porprov di kaldron. Tidak semua penerjun diterjunkan karena angin di sore itu bertiup kencang.

       Pembukaan Porprov Sultra XII sesengguhnya ditandai penyulutan api kaldron. Obor penyulut api kaldron dibawa keliling lapangan stadion oleh Lamoja dkk. Lamoja adalah mantan atlet nasional (cabang atletik) asal Buton Utara. Namun, api kaldron terpaksa disulut dengan geretan karena obor di tangan Lamoja sudah keduluan padam sejak penyulutan pertama di hadapan inspektur upacara Gubernur Nur Alam. Insiden tersebut cukup mengganggu kecemerlangn suasana pembukaan pekan olahraga daerah empat tahunan itu. Gangguan lain adalah sound sistem yang kurang bagus. Masalah ini langsung dikritik Gubernur Nur Alam saat menyampaikan kata sambutan.

       Dalam sambutannya Gubernur Sultra dua periode itu menyatakan sangat mengapresiasi persiapan dan penyelenggaraan Porprov Sultra XII. Ia mengatakan Bupati Ridwan Zakariah dan jajaran Pemerintah daerah Buton Utara telah menunjukkan kerja yang cerdas dan tuntas. Kualitas dan kemegahan infrastruktur yang telah dibangun terasa begitu prestisius. Namun demikian, ia minta kabupaten yang berminat menjadi tuan rumah Porprov Sultra berikutnya, agar mampu menyiapkan infrastruktur olahraga yang lebih baik lagi.

       Pembangunan sarana dan prasarana olahraga dalam rangka Porprov Sultra XII dibiayai APBD Buton Utara dan bantuan Gubernur Sultra. Menurut Ridwan Zakariah, total biaya yang digunakan kurang lebih Rp 100 miliar, termasuk Rp 20 miliar bantuan Pemprov Sultra. Bagi daerah otonom baru seperti Buton Utara, dana sebesar itu terbilang cukup besar dan memberatkan. APBD Buton Utara tahun 2014, misalnya, tercatat hanya sekitar Rp 497,3 miliar lebih. Tetapi semangat membangun fasilitas olahraga tidak terhalang keterbatasan anggaran. Sebab olahraga sangat penting dan strategis dalam rangka pembangunn bangsa.

       Seperti dijelaskan Hado Hasina, pembangunan fasilitas olahraga dilaksanakan juga hingga ke kecamatan-kecamatan. Setiap kecamatan di Buton Utara diusahakan memiliki lapanan sepak bola, selain fasilitas olahraga cabang-cabang lain. Saat ini sudah tiga dari enam kecamatan di kabupaten itu memiliki lapangan sepak bola standar. “Syaratnya, warga siapkan lahan,” ujar Kadis PU tersebut.

       Geliat pembangunan infrastruktur olahraga seperti ditunjukkan Kabupaten Buton Utara maupun kebijakan dan langkah-langkah konkret Gubernur Nur Alam, merupakan perkembangan yang sangat membesarkan hati. Pasalnya, olahraga di Tanah Air selama ini seperti mati suri. Sepi dari prestasi. Terkesan prestasi olahraga ikut ambruk bersamaan tumbangnya Orde Baru.

       Boleh jadi geliat pembangunan olahraga sebenarnya tidak pernah surut. Tetapi sebaliknya malah terus tumbuh dan berkembang seirama meningkatnya kemampuan keuangan daerah. Akan tetapi tren dan dinamika tersebut kurang dimanfaatkan para pemangku kepentingan, untuk menggali dan merekrut bibit atlet yang berbakat, dan selanjutnya mereka dibina untuk mengembangkan bakatnya yang terpendam itu melalui tahapan-tahapan peningkatan prestasi.

       Pemangku kepentingan yang kita maksud tidak harus lembaga pemerintah. Tetapi pihak-pihak non-pemerintah justru diharapkan untuk mengambil peran lebih aktif. Perusahaan mapan baik swasta maupun badan usaha milik negara adalah stakeholder yang diharapkan, bahkan dituntut untuk berkontribusi lebih besar dan berkeinambungan dalam pembangunan prestasi olahraga. Memproduksi atlet berprestasi tidak kalah penting dan mulianya dengan kepatuhan membayar pajak. Keduanya saling melengkapi dalam merealisasikan wujud pengabdian yang lebih cerdas dan bermartabat. ***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>