Menggunakan Aspal Buton, Implementasi Visi Misi Jokowi-JK

Oleh Yamin Indas

     EKSPEKTASI masyarakat kepada Presiden Joko Widodo harus diakui terlampau tinggi dan mengait hampir semua aspek persoalan bangsa. Bukan hanya perilaku dan pikirannya yang tak berjarak dengan kita melainkan juga visi misi Jokowi-JK memang sangat menjanjikan sebagaimana termaktub dalam Trisakti dan Nawa Cita. Trisakti dan Nawa Cita ini kemudian dijabarkan dalam berbagai program peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sebagian program itu kini mulai bicara melalui aksi para menteri Kabinet Kerja.

Coba simak  tiga butir Trisakti yang tentu saja diadopsi dari pemikiran orisinal Bung Karno. Pertama, kita harus berdaulat secara politik; kedua, berdaulat secara ekonomi (berdikari); dan ketiga, berkepribadian dalam kebudayaan. Visi ini oleh Jokowi-JK akan diwujudkan dalam misi yang mencakup sembilan sasaran program dan disebut Nawa Cita.

Terkait potensi aspal alam di Pulau Buton, kita berkeyakinan bahwa Presiden Jokowi akan segera meresponsnya melalui sebuah kebijakan penting. Sebab kebijakan menggunakan aspal alam yang melimpah itu amat sejalan, bahkan sesungguhnya merupakan implementasi butir kedua Trisakti dan butir kelima Nawa Cita yang berbunyi: Mewujudkan bangsa yang berdaya saing.

Pemerintah sejak era Orde Baru memelihara pengusaha yang menangani impor aspal minyak (asmin).  Volume impor asmin lebih separuh dari kebutuhan pengaspalan jalan d Indonesia yang mencapai kurang lebih 1,2 juta ton setiap tahun. Tentu kita tidak apriori mengatakan semua ruas jalan di Tanah Air harus menggunakan aspal buton (butas). Ruas-ruas jalan kelas satu yang kepadatan lalu lintas sangat tinggi seperti di Jawa, sebagian Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, wajar dan haruslah menggunakan asmin.

Namun, untuk ruas-ruas jalan provinsi, kabupaten, kecamatan, dan desa, terutama di kawasan timur Indonesia,  sepatutnyalah menggunakan butas. Alasannya, ruas-ruas jalan tersebut masih rendah kepadatan lalu lintasnya. Ironisnya, dalam kondisi masih seperti itu sudah dilapisi dengan asmin yang impor itu. Secara pribadi, kita senang saja melewati jalan berkonstruksi hotmixed (asmin campuran panas). Mulus dan nyaman. Tetapi coba dihitung secara ekonomis apakah itu reasonable.

Trisakti mengajarkan kita untuk sedapat mungkin mampu  berdiri di atas kaki sendiri di bidang ekonomi. Kekayaan alam kita cukup melimpah. Ikannya di laut tinggal diambil, aspalnya tinggal disendok dengan sovel. Ironisnya, kita sok impor. Kita ketagihan makan ikan salmon. Padahal, salmon itu adalah ikan tongkol juga yang berwarna putih karena hidup di perairan dingin dan pada waktu tertentu berimigrasi ke air tawar.

Maka, dalam rangka implementasi Trisakti dan Nawa Cita kita berharap agar Presiden Jokowi mengurangi ketergantungan impor asmin. Selanjutnya semua program pengaspalan jalan berkelas rendah kepadatan lalu lintasnya diharuskan memanfaatkan aspal alam yang melimpah di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Potensi butas diperkirakan mencapai 3,8 miliar ton. Untuk mendapatkan aspal ini tidak sulit. Ditambang saja secara terbuka dengan menggunakan buldozer. Tidak perlu masuk terowongan seperti kegiatan penambangan aspal di Perancis.

Respons daerah

Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam memiliki perhatian terkait pemanfaatan sumber daya alam tersebut. Beberapa ruas jalan provinsi yang sebelumnya tak terawat karena direncanakan menggunakan asmin tetapi tak kunjung terlaksana, dia memerintahkan menggunakan butas. Pengaspalan ruas jalan provinsi Tampo-Raha dan Bau-Bau – Banabungi adalah sekadar contoh pemanfaatan butas.

Bahkan, Gubernur Nur Alam telah membuatkan paying hukum penggunaan butas berupa peraturan daerah (Perda). Di situ ditegaskan pemanfaatan butas bertujuan untuk  memanfaatkan sebesar-besarnya sumber daya alam lokal untuk pembangunan dan pemeliharaan jalan (pasal 3 Perda Nomor 2 Tahun 2010). Jadi, gubernur ini sebetulnya telah melaksanakan amanat Trisaktinya Bung Karno.

Namun, sejauh ini baru Pemda Kabupaen Buton Utara yang merspons kebijakan gubernur tersebut. Ada beberapa kendala antara lain, langkanya batu agregat standar Kementerian Pekerjaan Umum. Bahan tersebut di Kendari dikenal sebagai batu moramo. Oleh Hado Hasima, Kepala Dinas PU Buton Utara masalah itu diatasi dengan menggunakan batu gunung (batu kapir) lokal sebagai bahan lapis pondasi konstruksi jalan yang akan menggunakan butas.

Hado Hasima mengatakan semua tempat di Indonesia memiliki batu kapur yang dapat digunakan untuk konstruksi jalan butas. Tetapi sebelum digunakan di lapangan, batu kapur tersebut harus diuji secara laboratoris untuk menetapkan spesifikasi yang ideal bagi pengaspalan ruas-ruas jalan yang masih rendah tingkat kepadatan lalu lintasnya.

Hado  kemudian menyebut kombinasi butas dengan batu kapur lokal Buton Utara sebagai Butur Seal Asbuton (aspal buton). Suatu ruas jalan yang dipersiapkan menggunakan butas, tentu dimulai dengan perbaikan tanah dasar, yaitu lapis paling bawah dari badan jalan. Pekerjaan ini dilanjutkan dengan penghamparan batu kapur selektif  berukuran paling halus hingga tiga inci. Lalu dipadatkan dengan roda besi (wales) berbobot 4-6 ton. Kegiatan selanjutnya adalah pengerasan lapisan paling atas dengan menghamparkan butir butas berukuran maksikmal dua mili yang telah dilunakkan dengan aspal cair atau aspal emulsi. Maka terbangunlah sebuah konstruksi jalan butas yang mulus versi Buton Seal Asbuton. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>