Jembatan dari Dana Pinjaman Kementerian Keuangan

 

Oleh Yamin Indas

 

Jembatan Sungai Konaweha Hulu yang menghubungkan dua kabupaten di Sulawesi Tenggara. Jembatan ini diresmikan Gubernur Nur Alam, Sabtu 6 September 2014. Foto Yamin Indas

PERHATIAN Nur Alam  terhadap pembangunan infrastruktur tidak main-main. Saking seriusnya dia menempuh kebijakan meminjam dana ke pihak lain untuk pembangunan jalan dan jembatan yang dipandang sangat mendesak dibutuhkan masyarakat. Pasalnya, dana APBD sendiri sangat terbatas untuk dapat melayani banyak kebutuhan, sementara ruas jalan dan jembatan yang menuntut penanganan segera makin banyak seiring terjadinya peningkatan produksi di pedesaan dan munculnya sejumlah kabupaten baru hasil pemekaran.

       Contoh langkah pro-rakyat yang dilakukan Gubernur Sulawesi Tenggara tersebut adalah pembangunan jembatan Sungai Konaweha Hulu. Untuk pembangunan jembatan itu diperlukan dana kurang lebih Rp 40 miliar. Sedangkan dana yang dapat disisihkan dari APBD provinsi hanya sekitar Rp 4 miliar.   Kalau APBD harus dikuras semua, maka banyak ruas jalan dan jembatan di tempat lain tak kebagian biaya pemeliharaan dan peningkatan mutu. Akibatnya ekonomi masyarakat bisa stagnan.

 Ihwal pembangunan jembatan untuk menembus isolasi daerah hulu sungai, merupakan dambaan penduduk setempat, sejak lama. Doa mereka agaknya terkabul sehingga ada saja jalan bagi pemerintah untuk memenuhi harapan rakyatnya. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sulawesi Tenggara, Drs H Nasir Andi Baso MSi, mengungkapkan: “Sampai kunjungan pertama Pak Nur Alam ke daerah hulu sungai setelah dilantik sebagai Gubernur Sulawesi Tenggara, kita belum tahu mau diambilkan dari mana dana untuk pembangunan jembatan Sungai Konaweha Hulu”.

Problem tersebut kemudian diterobos dengan kebijakan memanfaatkan fasilitas dana pinjaman yang disediakan Kementerian Keuangan melalui badan layanan umum PIP (Pusat Investasi Pemerintah). Dana pinjaman yang disalurkan PIP untuk membiayai pembangunan jembatan di hulu sungai itu Rp 30 miliar. Ditambah dana APBD Rp 4 miliar, maka jembatan berbentang 237 meter dan lebar 7 meter itu berhasil diselesaikan, lalu diresmikan penggunaannya oleh Gubernur Nur Alam, Sabtu 6 September 2014.

       Pemanfaatkan dana pinjaman PIP sebetulnya telah dirintis saat gubernur membangun rumah sakit modern Bahteramas di Kota Kendari. Rumah Sakit Umum Provinsi Sultra itu kini masih terus disempurnakan dengan penambahan sarana dan fasilitas meski telah menelan biaya kurang lebih Rp 400 miliar. Hampir separuh (tepatnya Rp 190 miliar) biaya pembangunan RSUP Sultra itu bersumber dari pinjaman badan layanan umum PIP.

       Memanfaatkan dana pinjaman bagi pembangunan proyek-proyek besar adalah strategi yang tepat. Sebab proyek dapat segera dinikmati masyarakat. Kecuali itu  pemerintah (provinsi) terhindar dari biaya tinggi akibat tekanan inflasi apabila proyek-proyek  tersebut bersifat multiyears. Pengembalian pinjaman secara angsuran dilakukan melalui penyisihan dana APBD setiap tahun. Tidak dibebankan pada masyarakat. Jadi kecaman segelintir orang bahwa pinjaman menjadi beban masyarakat tidak berdasar sama sekali karena tidak ada penambahan pembayaran pajak kepada masyarakat terkait pengembalian pinjaman tersebut.

Jembatan Terpanjang

       Jembatan Sungai Konaweha Hulu tercatat sebagai jembatan terpanjang di Sulawesi Tenggara. Bentangan sepanjang 237 meter tadi masih ditambah 150 meter opritan di ujung jembatan di wilayah Kabupaten Konawe dan 70 meter lagi di Kabupaten Kolaka Timur. Opritan adalah sambungan daratan dengan ujung konstruksi jembatan. Permukaan opritan ini juga harus berlapis aspal dan menjadi bagian dari konstruksi jembatan.

       Kehadiran jembatan tersebut praktis membebaskan penduduk Kolaka Timur di sepanjang hulu Sungai Konaweha dari problem isolasi. Sungai ini juga merupakan batas alam Kolaka Timur dengan Konawe dan batas alam Kabupaten Konawe Selatan dengan Konawe. Dengan demikian sungai terbesar dan terpanjang di jazirah Sulawesi Tenggara itu menjadi sumber kemakmuran penduduk di tiga kabupaen tadi ditambah warga Kota Kendari.

       Aliran sungai Konaweha pada titik tertentu menghilang ke perut bumi kemudian muncul di Pohara. Maka, aliran di sini disebut Sungai Pohara dan bermuara di Laut Banda. Sumber air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kendari diambil dari Sungai Pohara. Limpahan pasir dari sungai itu juga diambil warga bagi kebutuhan pembangunan fisik di ibu kota Sulawesi Tenggara.

       Belasan ribu hektar sawah di Konawe mendapatkan air dari Bendungan Wawotobi di Sungai Konaweha. Bendungan ini terletak di Unaaha, ibu kota Kabupaten Konawe. Dan Konawe telah berperan sebagai lumbung beras di Sultra justru karena keberadaan Bendungan Wawotobi dan jaringan irigasi lain di dataran rendah Abuki dan sekitarnya.

       Adapun penduduk Kolaka Timur di hulu Sungai Konaweha, umumnya petani tanaman semusim seperti padi ladang, sayuran. Kemudian perkebunan pisang, kelapa, kakao. Semua hasil tersebut diangkut ke Kendari sebagai titik simpul pemasaran terdekat. Diangkut dengan rakit ke hilir hingga jembatan Sungai Konaweha di Unaaha. Dari sini produksi tersebut kemudian diangkut dengan mobil barang ke Kota Kendari. Akhirnya, kesulitan angkutan dan transportasi  tersebut kini telah terjawab dengan kehadiran jembatan di hulu sungai dalam wilayah Kecamatan Latoma, Konawe.

       Gubernur Nur Alam mengatakan, ia kini masih memikirkan bagaimana mendaptkan dana bagi pembangunan sebuah lagi jembatan di alur Sungai Konaweha. Jembatan itu direncanakan dibangun di daerah Sabulakoa untuk melancarkan hubungan transportasi di sentra-sentra produksi baik di Konawe maupun Kabupaten Konawe Selatan.

       Lebih jauh gubernur menyatakan bahwa Pulau Buton dan Pulau Muna akan dibuatkan jembatan penghubung di daerah Baruta. Dengan demikian, hubungan transportasi  melalui lintas jalan poros di kedua pulau bakal lebih mudah. Selama ini kedua pulau dapat dijangkau dengan hubungan darat  dari ibu kota provinsi melalui lintas penyeberangan feri Torobulu – Tampo dan selanjutnya lintss feri Waara – Bau-Bau serta lintas feri Lasalimu -Wanci di Kepulauan Tulang Besi (kini Kabupaten Wakatobi).

Mewujudkan Mimpi

       Upaya pembangunan jembatan Sungai Konaweha Hulu

Profil Gubernur Nur Alam beberapa hari setelah dilantik menjadi gubernur di awal masa jabatan periode pertama. Foto Yamin Indas

berangkat dari mimpi Nur Alam ketika dia berulang kali mengunjungi masyarakat terpencil di daerah hulu sungai tersebut dalam rangka sosialisasi sebagai calon gubernur Sultra periode 2008-2013. Untuk menyeberang ke wilayah Kolaka atau sebaliknya ke wilayah Konawe, Nur Alam dan rombongan harus menggunakan pincara (rakit) yang ditarik tenaga manusia dengan tali tambang.

       Kondisi sulitnya hubungan transportasi tersebut membuat Nur Alam berjanji dalam hatinya, apabila terpilih menjadi gubernur dia akan berusaha mengatasinya. Mimpi tersebut kini telah menjadi kenyataan. Penduduk di daerah hulu sungai dengan mudah kini sudah dapat melakukan mobilisasi dalam rangka kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya. Jembatan Sungai Konaweha Hulu terletak di km-52 dari kota Unaaha. Ibu kota Kabupaten Konawe ini berjarak 70 km barat Kota Kendari.

       Ketika meresmikan jembatan, Gubernur Nur Alam berjanji akan terus melanjutkan pembangunan jalan di daerah hulu sungai bagi kelancaran barang dan mobilisasi manusia. Dengan demikian, kehadiran jembatan terpanjang itu   akan semakin mengekskalasi pertumbuhan ekonomi. Kehadiran jembatan ini diharapkan oleh gubernur dapat merangsang pertumbuhan di daerah hulu sungai baik di Kabupaten Kolaka Timur maupun Konawe. Dalam tahun 2014 Pemerintah Provinsi menyediakan lagi sekitar Rp 10 miliar untuk peningkatan mutu jalan dan jembatan di daerah hulu sungai.

       Artinya, kehadiran dan peristiwa peresmian jembatan adalah momentum untuk memperbarui semangat dan tekad bangkitnya kesadaran penduduk setempat untuk bekerja lebih keras lagi agar kehidupan ekonomi dan sosial mereka lebih meningkat, bahkan mampu bersaing dan mandiri menyambut masa depan yang lebih berkualitas.***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>