Menjanjikan, Investasi Tambak Udang di Sumbawa

Oleh Yamin Indas

Hamparan tambak udang milik PT Bumi HHarapan Jaya di Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, makin mempercantik pemandangan alam di kawasan tersebut. Foto Yamin Indas

KABUPAEN SUMBAWA BARAT di Provinsi Nusa Tenggara Barat kini mulai bicara di sektor industri kelautan dan perikanan, khususnya usaha pertambakan udang. Di Poto Tano terhampar sekitar 365 hektar lahan tambak yang tengah digarap investor dari Surabaya dengan pola intensifikasi.

NTB sebagai Bali kedua di bidang pariwisata tidak hanya menyuguhkan pesona alam pegunungan, pantai berpasir putih yang setiap detik dijilat gulungan ombak, serta pulau-pulau kecil yang indah, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi baik berupa cadangan mineral, lahan pertanian, maupun sumber daya kelautan dan perikanan.

Dengan dukungan infrastruktur yang makin baik dan kebijakan pemerintah setempat menciptakan iklim investasi yang kondusif, para investor tidak ragu melakukan investasi di sana. Iklim investasi yang kondusif dimaknai sebagai kemudahan urusan perizinan tanpa harus menyuap oknum pejabat dalam berbagai versi seperti uang, hiburan, fasilitas.

Seperti halnya Pulau Lombok, Pulau Sumbawa saat ini terdiri atas lima kabupaten/kota. Kedua pulau besar tersebut berada dalam satu sistem perhubungan darat melalui lintas feri Kayangan – Poto Tano. Kayangan adalah kota pelabuhan feri di ujung timur Pulau Lombok, sementara Poto Tano merupakan pelabuhan armada feri di ujung barat Pulau Sumbawa. Lintas tersebut dilayani 24 jam armada feri dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam.

Dari kejauhan menjelang masuk ambang pelabuhan feri Poto Tano, kita disambut pesona kemolekan alam Pulau Sumbawa. Puncak-puncak bukit di sekitar daerah pelabuhan berwarna kecoklatan bernuansa silver oleh terpaan sinar terik matahari siang. Panorama alam pegunungan itu tampak makin eksotik ketika berpadu dengan hamparan laut yang masih biru di perairan pantai Kabupaten Sumbawa Timur.

Ketika matahari bersinar lembut di kala senja, bukit-bukit menjulang tadi menampilkan kecoklatan yang utuh. Pemandangan tersebut kemudian mengorek memori saya pada alam pegunungan di sepanjang jalan poros Madinah – Mekkah. Tandus dan gersang. Namun, alam yang keras itu telah menjadi saksi kehidupan dan perjuangan Rasulullah Muhammad SAW yang diutus Allah Swt untuk datang membawa rahmat bagi alam semesta, rahmatan lil alamin. Al Qur’an dan sunnah beliau SAW adalah sumber dan pintu rahmat itu.

Adapun pegunungan dan perbukitan tandus di Sumbawa Timur, sejatinya hanyalah sebuah fenomena alam pada setiap puncak musim kemarau. Jadi bersifat musiman. Penduduk setempat mengatakan, puncak-puncak bukit tersebut akan kembali hijau setelah tiba musim penghujan.

Petakan tambak udang yang dilengkapi kincir air untuk memproduksi oksigen. Foto Yamin Indas

Petakan Tambak Udang

Begitu kita keluar dari gerbang pelabuhan feri Poto Tano, hamparan petak-petak tambak udang akan segera terlihat di sebelah kanan dari ruas jalan menuju Taliwang, ibu kota Kabupaten Sumbawa Barat. Sebuah ruas lainnya di pertigaan, menghubungkan kota-kota kabupaten di daratan Pulau Sumbawa hingga kota-kota kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan jembatan terapung kapal-kapal feri.

Lokasi tambak tersebut seolah berada di lembah, dikitari perbukitan dengan karakter alam yang disebutkan tadi. Bila kita naik sedikit ke salah satu bukit, maka hamparan petak-petak tambak akan nampak seperti sarang lebah, sebuah sumber daya buatan yang memperkaya keindahan alam di kawasan tersebut. Padahal, pengolahan tambak saat saya di sana, Sabtu 29 Agustus 2014, belum separuh dari sasaran seluas 365 hektar.

Seperti dijelaskan Site Manajer PT Bumi Harapan Jaya (BHJ), Antonius Bangun Widodo, proyek tambak intensif penuh mulai dirintis tahun 2012. Tujuh bulan kemudian dilakukan panen pertama dengan produksi 18 sampai 21 ton udang vaname per hektar. Tingkat produktivitas adalah 25 ton per hektar. Usaha budidaya serupa di daerah Alas, Kabupaten Sumbawa, dengan pola semi intensif hanya menghasilkan sekitar 1,2 ton per hektar.

Namun demikian, data-data produksi tersebut membuat saya minder jika harus membandingkan dengan produksi tambak tradisional di Sulawesi Tenggara yang hanya rata-rata di bawah satu ton per hektar. Paling tinggi dua ton untuk pola semi intensif minimum. Artinya, tidak semua sarana dan teknologi dapat diterapkan akibat masih terbatasnya kekuatan modal para petambak.

PT BHJ adalah anggota Sekar Alam Group yang berpusat di Surabaya. Kelompok ini memiliki sekitar 60 perusahaan yang bergerak di berbagai bidang bisnis. Anton Widodo didampingi Wakil Site Manajer, Zaldi Yanan, dan sejumlah kepala divisi yang telah berpengalaman di bidang industri udang.

Lokasi tambak di Poto Tano pada awalnya adalah lahan tambak yang terlantar selama sekian tahun. Lahan itu kemudian di-take over PT BHJ. Agar segera menghasilkan dengan tingkat produksi yang tinggi, PT BHJ menerapkan pola intensif penuh. Saluran irigasi dibuat sesempurna mungkin.

Wakil Site Manajer Zaldi Yanan saat menjelaskan proses penyedotan air laut untuk pengairan lahan tambak. Foto Yamin Indas

Budidaya udang tersebut sepenuhnya menggunakan air laut yang disedot dengan mesin pompa. Sebelum dialirkan ke petak-petak tambak, air laut itu ditampung pada sebuah tandon berupa kolam besar dalam kondisi steril dari bakteri dan biota yang membahayakan kehidupan udang. Tandon itu dilapisi plastik kedap air. Selama di penampungan, air laut tersebut diberi treatmen yang antara lain berisi nutrisi dan unsur-unsur pembentukan plankton.

Petakan tambak yang dibangun Anton Widodo dan kawan-kawan, bukanlah kolam yang beralas dan berdinding tanah seperti kondisi tambak rakyat pada umumnya. Petakan yang luasnya kurang lebih 0,5 hektar dilapisi pula plastik kedap air jenis HDP setebal 0,5 sampai 0,7 milimeter. Di bawah lapisan plastik dipasangi sejumlah pipa yang kedua ujungnya menyembul ke bibir kolam. Ini merupakan sarana sirkulasi udara agar dasar kolam tetap nyaman.

Kolam tersebut kemudian diisi air laut dari tandon tadi. Air steril ini difermentasi lagi sekitar satu minggu untuk menciptakan plankton. Kehadiran plankton ditandai dengan keruhnya air. Pada saat itu barulah ditebar benur jenis vaname (Litopenaeus vanamee) sekitar 500.000 per petak. Anak udang berumur 10 – 11 hari tersebut diberi pakan 4 kali dalam sehari. Dalam 4 bulan sudah dapat menghasilkan udang size 30 ekor per kilogram.

Masa panen tergantung permintaan pasar. Jika permintaan menghendaki size 40, 60, 80 ekor per kilogram, tentu panennya lebih cepat. Oleh karena itu, tambak di Poto Tano bisa dipanen sampai 4 kali dalam setahun dengan produksi 18 ton per hektar.

Site Manajer PT Bumi Harapan Jaya Antonius Bangun Widodo saat memaparkan teknik budidaya udang vaname untuk pola intensifikasi penuh di lokasi tambak Poto Tano, Sumbawa Barat. Foto Yamin Indas

Ramah Lingkungan

Pengelolaan tambak di Poto Tano dilakukan dengan prinsip ramah lingkungan. Setelah dilakukan panen terakhir, kolam dibersihkan dan airnya dibuang melalui saluran yang telah tersedia. Saluran itu dibuat berkelok-kelok jauh sebelum mencapai laut. Tujuannya agar terjadi proses penjernihan secara alami. Namun, sebelum tiba di laut, limba tersebut dites dengan pelepasan ikan dan biota lainnya. “Kalau tidak mati berarti airnya sudah bebas dari pencemaran,” kata Anton.

Kebijakan lain dan ini yang penting adalah melibatkan penduduk lokal sebagai karyawan. Saat ini saja tercatat 128 karyawan tenaga lokal. Karyawan PT BHJ di Poto Tano bakal bertambah seiring dengan meluasnya pengolahan tambak sesuai areal yang ada, yaitu 365 hektar.

Menurut Anton, bila luasan itu dibangun sekaligus maka investasi yang dibutuhkan sekitar Rp 300 miliar. Setiap petak menghabiskan dana sekitar Rp 300 juta, termasuk biaya pembangunan infrastruktur. Akan tetapi dalam rangka efisiensi, tidak perlu dibangun sekaligus. Sebagian hasil penjualan produksi dari lahan yang terbuka, akan diinvestasikan kembali bagi pembangunan keseluruhan tambak secara bertahap.

Pasalnya, sisa cadangan modal investasi masih terus dikembangkan untuk proyek yang lebih besar. “Pak Fong berhasrat membangun proyek tambak terbesar kedua di dunia dan lokasinya di Sulawesi Tenggara,” ujar Anton menyebut salah satu pimpinan Sekar Group yang bernama lengkap Harry Fong Jaya, lulusan sebuah perguruan tinggi di AS.

Kelompok usaha tersebut saat ini tengah membangun pabrik pengolahan dan pemurnian nikel di Kabupaten Konawe Selatan berkapasitas 100.000 ton nickel pig iron setahun dengan investasi 100 juta dollar AS (setara Rp 1,1 trilyun pada kurs Rp 11.000 per 1 dollar AS. Pembangunan pabrik tersebut ditangani PT PP (Pembangunan Perumahan), BUMN di lingkup Kementerian Pekerjaan Umum.

Cadangan lahan tambak itu sudah ada di Kendari Selatan juga. Tinggal dilakukan penelitian lebih detil dalam rangka pembuatan desain. Luasan lahan yang dibutuhkan paling sedikit 4.000 hektar. Lahan tambak ini akan dibangun untuk pola super intensif yang mampu mengkatrol tingkat produktivitas sampai 150 ton per hektar. “Ini industri tambak terbesar kedua di dunia setelah Lampung yang luasannya mencapai 10.000 hektar. Tambak super intensif tersebut dikelola PT Wahyu Mandiri,” kata Anton menjelaskan.

Selain Indonesia, negeri-negeri penghasil udang antara lain Taiwan, Thailand, Brasil. Pasokan pasar dunia dewasa ini didominasi Indonesia. Industri udang Indonesia bangkit kembali setelah terpuruk lebih satu dasawarsa akibat serangan penyakit putih bagi udang windu. Era udang windu kini digantikan udang jenis vaname yang tahan dari serangan penyakit selama pengelolaan tambak ditangani secara teknis yang benar dan tepat. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>